THE ADVENTURE OF ROBERT Part 7
Waktu itu siang hari sekitar jam satuan ketika Robert jatuh tersandung sebuah anak tangga. Untungnya tidak terpeleset ke bawah karena itu anak tangga terakhir, namun setumpuk hand-out fotokopian yang sedang dibawanya ke sebuah kelas atas pesanan seorang dosen berantakan di lantai. Saat itu di lantai itu tidak begitu banyak orang dan tidak satupun dari mereka yang mempedulikan pria setengah baya itu, beberapa mahasiswa/i yang sedang nongkrong di sana hanya menengok sebentar ketika dia terjatuh lalu terus kembali ke kesibukan masing-masing seperti ngobrol, utak-utik ponsel maupun membaca bahan kuliahannya, bahkan beberapa yang lewat di depannya pun dengan cuek meneruskan langkahnya. Hingga tak lama kemudian seseorang turun dari tangga di samping belakang Robert dan orang itu berjongkok membantunya memunguti fotokopian yang tercecer. Pria setengah baya itu mengangkat wajahnya melihat sosok itu, sesosok tubuh langsing yang berkulit putih mulus, pemilik tubuh itu pun berwajah cantik dengan rambutnya yang hitam legam terurai hampir sedada. Bukan hanya sekedar cantik, senyum dan sinar matanya pun seolah memberi kesan ramah, tenang, dan lembut.
Gadis itu bernama Tessa (19 tahun), mahasiswi sastra Inggris yang Baru
memasuki semester 2. Selain itu dia juga adalah anak tunggal dari dekan
fakultas sastra, ibunya telah meninggal ketika dia masih SMP dulu. Hidup hanya
dengan ayahnya saja membentuk karakternya menjadi keibuan dan mandiri karena
otomatis urusan-urusan di rumah jatuh padanya. Di kampus dia disukai bukan
karena paras cantiknya saja, tapi juga karena berhati emas, pintar, dan ramah.
Dalam penampilan pun dia tidak seperti anak-anak pintar lain yang umumnya tidak
fashionable dan hanya tau belajar saja. Pakaiannya cukup modis, malah kadang
terbilang seksi namun masih dalam batas wajar.
“Ehehe, makasih ya Non jadi ngerepotin aja” kata Robert seraya menerima
seberapa fotokopian yang dipungut gadis itu.
“Ngga apa-apa kok Pak, lain kali hati-hati aja yah !” kata gadis itu dengan
senyumnya yang lembut.
Walau cuma sekejap Robert sempat melihat paha mulus Tessa ketika bangkit dari
posisinya yang berjongkok karena saat itu dia sedang memakai rok putih yang
menggantung sedikit di atas lutut. Hal itu membuatnya menelan ludah, belum lagi
kaos tanpa lengan yang dipakainya saat itu juga memperlihatkan lengannya yang
putih mulus.
“Sudah ya Pak, saya kebawah dulu !” pamitnya lalu menuruni tangga.
Kejadian itu terjadi 7-8 bulan sebelum Robert menemukan smartphone yang memicu bangkitnya kembali naluri jahat dalam dirinya. Maka saat itu Robert masih dapat menahan dirinya mengingat dirinya sudah meninggalkan kehidupan kelamnya, sampai sisi jahatnya kembali muncul. Pandangannya terhadap gadis itu dari rasa kagum mulai berubah menjadi nafsu, seperti serigala yang mencari kesempatan memangsa buruannya. Padahal Tessa selama ini selalu ramah bukan saja terhadap dirinya, tapi juga terhadap teman-temannya, dosen, satpam, maupun karyawan lainnya. Yang suka padanya tidak sedikit, beberapa cowok pun telah melakukan pendekatan padanya, namun ditolak dengan halus karena belum ada yang cocok menurutnya. Dari cowok-cowok itu sebenarnya ada seorang yang menggetarkan hatinya, yaitu Martin, dua angkatan diatasnya dan seorang pemuda yang tampan, kaya, pintar, orangnya juga sopan dan lurus. Tessa, sebagai gadis yang penuh pertimbangan belum bersikap benar-benar serius pada pemuda itu sebelum memutuskan jadi pacarnya, namun sinyal-sinyal ke arah sana memang sudah ada. Mereka seringkali makan bersama di kantin dan mengerjakan tugas kelompok, keduanya terlihat serasi. Mungkin keduanya sudah menjadi sepasang kekasih kalau saja hal itu tidak terjadi…
Hari itu sore jam limaan, Robert melewati sebuah koridor dan menemukan ruang dekan fakultas sastra masih menyala. Dia mungkin akan berjalan terus kalau saja suara rintihan kecil tidak terdengar dari ruangan itu. Secara alamiah dia terhenti di depan ruang itu dan menyeringai mesum, dilihatnya keadaan sekitar untuk mencari celah melihat ke dalam. Seperti halnya ruang Pak Dahlan, kajur Komunikasi, jendela ruangan itu juga bertirai dan mempunyai lubang angin diatasnya. Dia mengintip dengan cara yang sama ketika menangkap basah Pak Dahlan yaitu dengan bangku tinggi yang buru-buru diambil dari gudang. Dari lubang angin, dia mulai melihat ke dalam, mengkin kalau yang melakukan Pak Dahlan sudah tidak aneh lagi, tapi kali ini yang melakukan adalah Pak Parto, si dekan fakultas sastra, padahal dia selama ini reputasinya bersih dan disegani oleh rekan sejawat maupun mahasiswanya. Beliau seorang duda berumur tengah 40an dan wajahnya masih segar menyisakan ketampanan masa mudanya. Yang menjadi lawan mainnya adalah Bu Gaby, seorang dosen fakultas sastra berusia 40an juga, belum menikah hingga kini karena terlalu sibuk dengan karirnya sebagai dosen dan penterjemah profesional. Ternyata Pak Parto saat itu sedang jatuh dalam godaan Bu Gaby yang genit itu.
Saat itu posisi Bu Gaby sedang berpegangan pada sisi meja menerima sodokan-sodokan Pak Parto dari belakangnya. Kemeja yang dipakainya sudah terbuka seluruh kancingnya dan branya pun tersingkap sehingga memperlihatkan kedua payudaranya yang montok. Bawahnya pun sudah tidak memakai rok dan celana dalamnya lagi. Pak Hermawan juga tinggal memakai kemejanya dan tidak bercelana lagi. Keduanya tidak sadar sepasang mata mengintip dari lubang angin karena hanyut dalam nafsu terlarangnya, mereka juga tidak sadar kegiatan mereka sedang diambil dengan smartphone. Pak Hermawan tidak menyangka dan berpikir sejauh itu bahwa kenikmatan yang direguknya sore itu hanyalah sesaat, sedangkan dosanya harus ditanggung oleh anak semata wayangnya, Tessa. Ya, itulah yang terlintas di benak Robert ketika itu, memang tidak sulit memeras Pak Hermawan dan menikmati Bu Gaby saat itu juga, seperti yang pernah dia lakukan pada Pak Dahlan. Namun dia berpikir lebih jauh, Pak Hermawan pada dasarnya cukup bersih sehingga tidak mungkin diajak bekerjasama seperti si bandot Pak Dahlan, hari ini dia hanya sedikit khilaf sehingga melakukan hal itu. Sedangkan menikmati Bu Gaby mungkin boleh juga, tapi Robert lebih tertarik dengan gadis-gadis muda daripada wanita setengah baya seperti Bu Gaby.
Robert telah melihat peluang emas untuk memangsa Tessa dibalik skandal
ayahnya. Maka setelah mengambil lima gambar dia turun dari bangku tinggi dengan
hati-hati dan meninggalkan tempat itu. Besoknya Tessa agak kaget ketika Robert
memTessalnya ketika bertemu di depan kelasnya, katanya ada suatu masalah
penting yang tidak bisa dibicarakan di sini, untuk itu Robert mengajaknya
bertemu lagi di poliklinik di gedung kedokteran sore jam empatan. Tessa
walaupun merasa ada yang aneh, tetapi tetap mendatangi tempat itu karena
penasaran dan dia tidak pernah menduga pria itu mempunyai niat tidak baik
terhadapnya, kalaupun ya ini kan di kampus, tempat umum, sehingga tidak
mungkinlah terjadi macam-macam, demikian pikirnya polos.
“Pak Robert, sore Pak, ada apa nih mTessal saya kesini, penasaran saya !”
sapanya ramah pada Robert yang saat itu sedang memotong rumput di depan
poliklinik itu.
Suasana cukup lenggang disana pada waktu itu. Robert mengajak gadis itu ke
dekat pintu poliklinik.
“Gini Non, sebenernya Bapak cuma mau ngomongin tentang bapak Non, Pak Parto”
katanya dengan wajah serius.
“Emang, papa kenapa Pak ? ada masalah apa ?” tanya gadis itu makin penasaran.
“Hhhmm…ini deh, Non liat sendiri aja deh disini…” jawab Robert seraya
mengeluarkan smartphonenya dan menunjukkan hasil jepretannya kemarin.
Mata Tessa terbelakak kaget sambil menutup mulutnya yang melongo dengan
tangan ketika menyaksikan gambar itu, rasanya tidak percaya itu ayahnya. Robert
menekan tombol melanjutkan ke gambar berikutnya yang lebih jelas. Ya…tak salah
lagi memang itu gambar ayahnya, yang selama ini dia kagumi dan hormati, tak
disangka ayahnya akan berbuat nista seperti itu, kenyataan yang membuatnya
terpukul sekali.
“Pak, apa…apa benar itu papa ? darimana bapak bisa dapet itu semua ?” tanyanya
terbata-bata.
“Bener Non, sumpah soalnya saya sendiri yang ngeliat kok…dan yang memotret”
jawabnya dengan mengembangkan senyum.
Terhenyak gadis itu mendengar jawaban Robert dan melihat ekspresi wajahnya,
secara refleks dia mundur selangkah menjauhi pria itu.
“Apa…Apa maksud Bapak berbuat gitu ?” Tessa diliputi perasaan kaget, panik, dan
marah sehingga ngomongnya terbata-bata.
“Hehe…ga ada maksud apa-apa Non, Bapak kan cuma gak sengaja lewat dan ngeliat
itu, jadi cuma sebagai saksi saja kok, makannya sengaja Bapak kasih tau Non
sekarang ini supaya nggak shock duluan, karena siapa tau orang lainnya bakal
tau ntar” Robert menjelaskan dengan santainya.
“Jangan Pak, tolong jangan sampai lainnya tau, tolong hapus file itu, saya
mohon !” ucap Tessa memelas.
“Lho, saya kan cuma mau menyuarakan kebenaran aja Non, ini kan jaman reformasi,
yang busuk ga boleh ditutup-tutupi lagi dong Non, kecuali…” Robert tidak
meneruskan kata-katanya.
“Kecuali apa Pak…tolong katakan !” suaranya meninggi seperti mau nangis.
Robert tidak menjawab, hanya menatapi tubuh gadis itu yang saat itu terbungkus
kaos pink berleher lebar dan celana jeans. Tatapannya nanar dan
menelanjanginya, membuat gadis itu menyilangkan tangan menutup dadanya dengan muka
memerah malu.
“Tidak Pak, pokoknya nggak…jangan keterlaluan !” Tessa menggeleng-geleng kepala
mengetahui kemauan pria setengah baya itu.
“Ah, ayolah Non, seperti kata pepatah utang ayah dibayar anak kan, bapak Non
melakukan perbuatan mesum di kampus, kenapa Non ga membayar dengan cara yang
sama juga, adil kan hehehe…!” Robert menyeringai mesum
“Kurang ajar ! saya salah menilai Bapak, ternyata Bapak ini binatang !” Tessa
benar-benar marah dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Terserah deh apa kata Non, lagian memang saya seperti itu kok” katanya lagi
dengan terkekeh-kekeh “OK lah kalo Non gak mau, ga apa-apa, ga enak kalau
terpaksa gitu saya juga, paling dalam waktu dekat ini bakal ada berita heboh,
saya permisi deh kalo gitu !” Robert bersiap pergi sambil membawa peralatannya
meninggalkan Tessa yang berdiri terpaku dengan pikiran yang kalut. Dia tidak
pernah menyangka penjaga kampus ini sampai setega itu padanya. Walaupun dia
kecewa dengan skandal yang dilakukan ayahnya, namun ayah tetaplah ayah yang
selama ini mendidik dan membesarkannya, tentu sebagai anak berbakti dia tidak
tega ayahnya harus menerima cemoohan bila hal ini tersebar. Keringat dingin
sampai mengucur di dahinya saking paniknya dan dadanya serasa sesak karena
menerima kenyataan ini.
“Tunggu Pak !” cegah Tessa setelah Robert berjalan beberapa langkah
meninggalkannya “saya…saya…” dia tak sanggup meneruskan kata-katanya
Robert berbalik dan mendekati gadis itu lagi
“Gimana Non, udah dipikir baik-baik nih ?” tanyanya dengan nada mengejek “Non
mau kan jadi anak berbakti, nah sekarang ini waktunya Non ngebales kebaikan
orang tua Non, ya kan ?”
“Baik..baik…saya bersedia melakukan apapun, tapi tolong jangan perkosa saya,
saya masih perawan” mohonnya mengiba.
“Hmm…bener nih ya, jadi ngapain aja mau kan asal ga diperawanin ?” Robert minta
kepastiannya.
Tessa menganggukkan kepalanya dengan berat, dia menggigit bibir bawah sebagai
rasa putus asa tidak ada pilihan lain lagi untuk menyelamatkan reputasi
papanya.
“Oke deh, kalau emang Non setuju ayo kita masuk ke sana untuk berunding !” Robert
mengajak Tessa masuk ke poliklinik itu “Ayo tunggu apa lagi, mau ada yang liat
apa !” panggilnya pada Tessa yang masih ragu memasuki ruangan itu.
Gadis itupun terpaksa menuruti perintah Robert. Di dalam ruang itu terdapat
sebuah ranjang pasien, lemari berisi obat-obatan, dan beberapa perabotan
lainnya. Robert menyuruhnya duduk di tepi ranjang. Jantungnya berdebar-debar
karena takut dan malu menjadi korban pelecehan seksual oleh pria tidak bermoral
ini.
“Rileks aja Non, kalo dinikmatin lama-lama juga asyik kok hehehe…!” ucapnya
sambil memegang pundak Tessa.
“Disini gak ada siapa-siapa lagi, jadi Non ga usah malu-malu gitu” katanya
lagi, tangannya mulai menggerayangi kedua buah dadanya dari balik pakaiannya
“toked Non montok juga yah, ukurannya berapa nih”
Setetes air mata menetes dari matanya meleleh di hidungnya yang bangir. Itu
adalah pertama kalinya dia dilecehkan seperti itu, namun tak dapat dipungkiri
saat itu juga pertama kalinya dia terangsang secara seksual
“Liat dalemnya yah Non” katanya seraya memegang bagian bawah kaosnya bersiap
untuk menyingkapnya.
“Jangan Pak, tolong sudah, sampai sini saja saya mohon !” katanya terisak
sambil menahan tangan Robert yang mau membuka bajunya.
“Mau berubah pikiran nih ? tau akibatnya kan ?” tanya Robert
Dengan sangat terpaksa Tessa pun melonggarkan pertahanannya sehingga Robert
melucuti kaosnya. Gadis itu kembali menyilangkan tangan ke dada menutupi daerah
yang tinggal tertutup bra warna krem itu. Dengan mudah Robert menyingkirkan
tangan Tessa yang menghalanginya, lalu cup bra itu diangkatnya sehingga
payudara 34B dengan puting kemerahannya itu terekspos jelas.
“Waw…bagus banget, putih bulet gini, kenceng lagi !”
Tessa mendesis ketika kedua tangan kasar penjaga kampus itu menggerayangi kedua
gunung kembarnya bersamaan, jari-jarinya bergerak liar mempermainkan putingnya
sehingga benda itu mengeras. Disamping perasaan-perasan tidak enak tadi, Tessa
tidak bisa menyangkal sensasi nikmat ketika pertama kalinya buah dadanya
diremasi oleh tangan pria.
Kemudian Robert melepaskan sepatu dan branya dan mengangkat kakinya ke
ranjang hingga tubuh mulus itu terbaring topless.
“Tiduran aja Non biar enak, biar Bapak yang kerja” katanya “udah jangan nangis
terus, pokoknya asal Non nurut semuanya bakal beres” tangannya menyeka air mata
yang membasahi pipi Tessa.
Seperti dokter dia masih berdiri di sebelah ranjang itu, lalu dia membungkuk
mengarahkan mulutnya ke payudara Tessa. Dilumatnya payudara itu dengan kenyotan
dan gigitan-gigitan ringan. Hal itu menyebabkan Tessa menggeliat-geliat dan
mengeluarkan desahan, perasaannya terombang-ambing dalam kekecewaan, ketakutan
dan kenikmatan yang tak bisa dibendungnya. Hisapan pria itu pada putingnya
menaikkan libidonya walaupun itu diluar kehendaknya. Tessa hanya bisa pasrah
saja, tangannya meremas-remas rambut Robert karena rasa geli akibat kenyotan Robert
pada payudaranya, payudara yang lain juga sedang diremasi tangan Robert, nampak
jari-jarinya menggesek-gesek putingnya memanaskan birahi gadis itu. Desahannya
bercampur dengan suara tangis sesegukan.
Robert kini membuka bajunya sendiri hingga yang tersisa cuma celana dalamnya
saja. Tessa dapat melihat tubuh pria itu yang berisi dengan luka gores di
dadanya serta sesuatu yang menggelembung di balik celana dalamnya.
“Jangan, jangan Pak, tadi kan udah janji” Tessa memelas dan merapatkan badan ke
kepala ranjang sambil memeluk guling menutupi tubuhnya yang setengah telanjang.
“Oh, tenang Non, tenang saya kan pengen ngerasain hangatnya badan Non aja,
bukannya merawanin, kalo ga buka baju mana bisa ya kan ?” bujuknya
Dia lalu naik ke ranjang dan serta merta membujuk Tessa agar tidak panik karena
baginya menikmati korban harus terlebih dulu membuatnya takluk, itulah yang
menjadi kepuasannya. Dengan kata-kata halus dicampur sedikit ancaman, akhirnya
gadis itu merelakan juga celana panjangnya dilucuti Robert. Paha Tessa yang
putih mulus yang dulu pernah membuat Robert menelan ludah itupun kini terlihat
jelas. Bulu kuduk Tessa merinding merasakan belaian tangan kasar Robert pada
kulit pahanya.
“Hmmm…Non emang sempurna banget, punya body montok gini siapa yang ga ngiler”
gumam Robert sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Tessa.
Keduanya kini tinggal memakai celana dalamnya saja, bulu kemaluan Tessa yang
lebat itu sedikit terlihat melalui celana dalam kremnya yang tipis. Robert
kembali menjinakkan Tessa, diambilnya bantal yang dipakai menutupi tubuhnya dan
dibaringkannya kembali gadis itu. Lalu Robert menindih tubuhnya, dipeluknya
tubuh Tessa dan diresapi kehangatan dan kemulusannya. Tessa dapat merasakan
benda keras di balik celana dalam Robert bersentuhan dengan daerah kemaluannya.
Tessa memalingkan wajah ketika Robert menyentuh bibirnya, tapi ruang gerak yang
terbatas Robert berhasil juga melumat bibirnya.
“Mmhh…uummm !” gumamnya saat menciumi Tessa dan berusaha memasukkan lidahnya ke
mulut gadis itu yang masih menutup.
Tessa sendiri dapat merasakan hembusan nafas pria itu pada wajahnya, panas dan
bau rokok. Dia merasa tidak enak dengan nafas Robert yang bau rokok itu tapi
toh pertahanannya bobol juga karena sulit bernafas dan Robert terus
merangsangnya dengan menggerayangi tubuhnya. Lidah Robert pun mulai
bermain-main di rongga mulutnya, Tessa tidak sanggup lagi mengelak darinya
karena setiap kali lidahnya bergerak yang terjadi adalah saling beradu dengan
lidah Robert sehingga diapun membiarkan lidah Robert menari-nari di mulutnya.
Matanya terpejam dengan air mata membasahi kelopak matanya. Percumbuan itu
membuat nafasnya makin memburu, badannya bertambah panas, perasaan aneh yang
baru pernah dialaminya, yang lazim disebut birahi.
Ciuman Robert lalu merambat ke dagu, leher, juga telinganya, hal ini membuat
birahi Tessa makin tak terbendung saja, terlihat dari badannya yang sudah mulai
rileks menikmati setiap rangsangan yang diberikan.
“Enak kan Non rasanya ?” tanya pria itu waktu menjilat telinga Tessa.
“Eengghh…sudah Pak…jangan…diterusin” Tessa mendesah antara menolak dan tidak.
Tangannya semakin liar menggerayangi tubuh gadis itu, kini sudah mulai memasuki
celana dalamnya dan menyentuh permukaannya yang berbulu. Tubuh Tessa tersentak
saat jari-jari Robert meraba bibir kemaluannya, seperti ada sengatan listrik
yang membuatnya berkelejotan.
“Jangan Pak…jangan disana” Tessa mengiba sekali lagi
“Hushh-hush-hush tenang Non, enjoy aja, cuma pegang-pegang aja kok !” kembali Robert
melumat bibir Tessa untuk membungkamnya.
Tubuh Tessa pun bergetar, dari mulutnya yang sedang dicumbu Robert terdengar
desahan tertahan. Dia harus mengakui bahwa dirinya terangsang berat sekalipun
nuraninya menolak, memang suatu dilema yang membuatnya bingung sehingga
perasaan itu cuma bisa dicurahkannya lewat air mata.
Daerah bibir kemaluannya semakin basah seiring dengan gesekan jari-jari Robert yang semakin intens. Lidahnya tanpa sadar membalas lidah Robert yang sejak tadi mengorek-ngorek mulutnya, saling jilat dan saling beradu. Hal itu berlangsung lima menitan lamanya. Kemudian Robert duduk di ranjang dengan bersandar di kepala ranjang, tubuh Tessa yang sudah tinggal bercelana dalam itu didudukkan diantara kedua kakinya, lengan kokohnya mendekap tubuh mulus itu dari belakang. Kembali mereka pun terlibat dalam percumbuan mesra, Robert setengah paksa menengokkan wajah Tessa ke samping, dari belakang mulutnya kembali melumat bibir gadis itu yang tipis dan mungil. Sambil berciuman tangan kanan Robert memasuki celana dalam Tessa dari atas, dari luar nampak gumpalan yang bergerak-gerak pada bagian kemaluan yang masih tertutup celana dalam itu, tangan kirinya dengan liar mempermainkan payudara gadis itu. Sesekali Tessa menggeliat-geliat karena rasa geli pada pangkal pahanya itu, bagaimana tidak, Robert begitu lihai memainkan jarinya menekan, memutar-mutar, dan menggosok bagian sensitif itu, salah satu jurus andalannya dalam menaklukkan mangsanya. Lendir kewanitaannya membasahi jari Robert dan bagian tengah celana dalamnya.
Tiba-tiba terdengar suara gedoran dari jendela di samping mereka yang
mengejutkan keduanya. Disana ada Pak Somad, seorang satpam kampus yang
kebetulan lewat, secara tak sengaja dia mendengar suara desahan dari dalam
sehingga membuatnya penasaran dan melihat apa yang terjadi di dalam, maka dia
mengambil bangku tinggi dan mengintip dari samping poliklinik lewat ventilasi
diatas jendela bertirai itu.
“Hei…lagi asyik nih Pak Robert, ikutan dong !” serunya dari sana.
Robert lega ternyata yang menangkap basah itu sama bejat seperti dirinya, tapi
tidak halnya dengan Tessa. Gadis itu tentu saja panik lagi, ini berarti dia
harus mengalami hal yang lebih memalukan lagi.
“Tenang Non, ini diluar perkiraan kita, dia baru tau skandal Non aja, sekarang
Non nurut aja ke saya, kalo Non macem-macem bisa-bisa skandal bapak Non bocor
juga !” Robert membujuk Tessa.
Tessa tertegun, dia mempertimbangkan kata-kata Robert untuk melindungi ayahnya,
satu-satunya cara adalah mengorbankan dirinya sendiri. Dia termenung sambil
menutupi tubuhnya dengan bantal, sementara Robert turun dari ranjang membukakan
pintu untuk tamu tak diundang itu.
Robert membuka pintu, tapi yang muncul disana bukan hanya Pak Somad
sendirian tapi juga ada Pak Japra, karyawan kampus yang biasa mengurus kebun,
berusia diatas 60an dan bertubuh kerempeng dengan kepala sudah hampir putih.
“Wah-wah lagi ada rejeki kok ga bagi-bagi sih Pak Robert !” kata Pak Somad
“Hahaha…tenang aja saya juga baru pemanasan kok, jadi hidangannya masih segar
!” disambut gelak tawa mereka.
Robert pun mengajak mereka masuk dan mempertemukan mereka pada korbannya. Mata
keduanya memandang nanar pada tubuh mulus Tessa yang sudah setengah telanjang
itu, bantal yang didekapnya hanya cukup menutupi tubuh bagian atasnya saja, dan
hal ini tentu membangkitkan ketiga pria di ruangan itu. Kedua pria yang baru
datang itu membuka pakaian mereka hingga bugil.
“Wah gila ini kan Tessa, anaknya dosen itu, kok bisa kaya gini sih ?” kata Pak Japra
seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Udahlah ga usah banyak cingcong, pokoknya dia ridho kok digituin, nikmatin aja
deh !” kata Robert.
“Bening banget nih si Non ini, duh saya jadi kesengsem berat” kata Pak Somad.
Mereka semakin mendekati Tessa sehingga jantungnya makin berdebar-debar,
belum lagi melihat kemaluan mereka yang telah mengacung tegak itu. Tubuhnya
gemetar dan makin menyudut ke kepala ranjang.
“Jangan Pak…saya mohon !” mohonnya dengan suara bergetar.
“Ayo Non, santai aja, ntar juga keenakan kok !” sahut Robert sambil menarik
pergelangan kaki gadis itu
Pak Somad menarik bantal yang dipakai Tessa melindungi tubuhnya. Mata mereka
seperti mau copot saja melihat keindahan tubuh Tessa dengan payudaranya yang montok.
Sebentar saja tangan-tangan hitam kasar itu sudah berkeliaran di pelosok tubuh Tessa.
Di tengah serbuan itu, Tessa menangis dan memohon agar mereka tidak berbuat
lebih jauh. Namun percuma saja, mereka tidak peduli, sebaliknya bertambah nafsu
karena rontaannya. Posisinya kini terduduk di tepi ranjang dan dikerubuti tiga
pria itu. Tangan keriput Pak Japra mengelus-elus payudara kirinya, sesekali
putingnya dipencet dan dipilin-pilin dengan jarinya. Pak Somad di sebelah
kanannya juga sedang meremas payudara yang satunya sedangkan tangan lainnya
membelai punggungnya. Selain itu satpam yang berkumis tipis seperti tikus itu
juga mengendusi tubuh Tessa di sekitar leher dan tenguk. Harum tubuhnya yang
terawat itu menyebabkan nafsu pria itu terpicu dengan cepat, kemudian lidahnya
keluar menjilati telak leher jenjang itu sehingga gadis itu menggelinjang.
Robert sendiri naik ke ranjang dan mendekapnya lagi dari belakang, mulutnya
menelusuri sisi lain dari leher dan pundak Tessa.
“Enngghh…ssshh !” desis Tessa merasakan kulit lehernya digigit-gigit kecil dan
dihisap-hisap di kedua sisinya oleh Robert dan Pak Somad.
Saat itu juga Tessa mulai merasa celana dalamnya dipeloroti hingga akhirnya
lepas dari tubuhnya. Pak Somad yang melihat nanar kemaluan Tessa yang tertutup bulu-bulu
hitam lebat mengalihkan sasarannya, kini dia mengambil bangku di ruang itu dan
duduk di depan gadis itu. Mula-mula dicium-ciumnya paha mulus Tessa disertai
sedikit jilatan, kemudian mulutnya terus merambat ke kemaluan gadis itu.
“Oooh…jangan disitu !” desahnya ketika merasakan lidah pertama yang menyentuh
vaginanya, tubuhnya seperti tersengat listrik merasakan sensasi itu, rasa malu
dan terhina menderanya namun dibarengi juga dengan rasa nikmat.
Pak Somad membenamkan wajahnya ke selangkangan Tessa, lidahnya dengan rakus
menjilati bibir kemaluannya dan menggelikitik klitorisnya, sementara tangannya
meremas buah dadanya. Tanpa terasa Tessa malah membuka lebih lebar pahanya
sehingga jilatan Pak Somad semakin terasa. Pria itu menyibak bibir kemaluan itu
dengan jarinya sehingga terlihat dalamnya yang merah.
Di tempat lain Pak Japra, pria tua itu sedang sibuk mengenyoti payudara
kirinya sambil tangannya bergerilya mengelusi tubuhnya.
“Cup…cup…ssreepp !” terdengar payudara itu disedot-sedot oleh mulutnya yang
sudah ompong.
Dari belakang Robert tidak henti-hentinya melumat bibir gadis itu, sudah cukup
lama dia mengorek-ngorek mulut gadis itu dengan lidahnya sampai ludah mereka
sudah membasahi daerah sekitar mulut. Tessa tidak bisa berbuat apa-apa selain
menerima saja apa yang diperbuat mereka padanya, dari mulutnya terdengar suara
desahan yang tertahan. Setelah sepuluh menit vaginanya dijilati Pak Somad, dia
merasakan adanya suatu dorongan yang aneh, ada sesuatu yang mau keluar yang
tidak bisa ditahannya. Untuk pertama kalinya dia mengeluarkan cairan cinta dari
kemaluannya, cairan itu diseruput oleh Pak Somad dengan nikmatnya.
“Emmpphh…ummm…!” erangnya tertahan sambil meremas rambut Pak Somad.
Tubuhnya lalu melemas seperti kehilangan tenaga tapi bukan lelah, suatu
perasaan aneh yang lain dari biasanya bagi pemula seperti Tessa. Pak Japra
akhirnya melepas kenyotannya pada payudara gadis itu meninggalkan sisa-sisa
ludah dan bekas cupangan.
“Bagi dong Pak Somad kayanya enak yang peju si Non ini ?” sahutnya
“Silakan Pak, masih ada kok, nih kalau mau gantian, sedap loh bener, baru nyoba
rasanya memek anak kuliahan !” Pak Somad bangkit berdiri memberi giliran pada
temannya.
Pria tua itu duduk di bangku mengambil jatahnya, dijilatinya vagina Tessa yang
telah basah oleh lendir akibat orgasme barusan. Belum lama lepas dari ciuman Robert,
bibirnya kembali dilumat Pak Somad, ciumannya lebih kasar dan bernafsu daripada
Robert seakan-akan mau menelannya. Kini Robert menyusupkan kepalanya lewat
ketiak kanan gadis itu dan mulutnya menangkap payudaranya. Rangsangan demi
rangsangan yang diterima tubuhnya membuat gadis itu bagaikan berada dalam
perahu hati nurani yang sudah hampir karam dihempas gelombang nafsu birahi. Tak
lama kemudian mereka membaringkan tubuh Tessa di ranjang itu, dadanya nampak
naik turun karena nafasnya yang sudah tak karuan, matanya sembab karena air
mata dan suara isak tangis masih terdengar.
“Ayuh siapa mau duluan nih, ga sabar pengen nyoblos memeknya !” kata Pak Somad
dengan antusias.
“Apa !! Tidak…tadi kan Bapak sudah janji !” sahut Tessa mendengar kata-kata Pak
Somad itu sambil berusaha bangkit.
“Oh…maaf Non, yang janji kan saya, tapi bapak-bapak ini kan ngga, jadi ini
diluar kuasa saya loh !” Robert menjawab dengan tenang sambil mengangkat bahu.
Sebenarnya kalaupun kedua orang ini tidak datangpun Robert tidak ada niat untuk
memegang janjinya, itu semua hanya pancingan agar Tessa masuk dalam jebakannya
dan takluk secara perlahan tapi pasti, bagi bajingan seperti dirinya
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan sudah bukan hal yang aneh lagi
“Tidak…tidak…lepaskan saya !” Tessa beringsut hendak menghindari mereka.
Dengan sigap Robert langsung mendekap tubuhnya hingga gadis itu tak berkutik.
“Pegangin tangannya di sana !” perintah Robert pada mereka
Pak Japra langsung pindah ke sisi ranjang yang lain dan memegangi lengan Tessa
yang satunya.
“Jangan ngelawan terus Non, ntar bukan cuma Non yang susah, tapi Bapak Non
juga, inget itu !” bisik Robert di telinganya.
Mendengar itu Tessa teringat lagi apa yang menyebabkan dia mau berkorban
seperti ini, kini posisinya sudah benar-benar terpojok, dia harus memilih
antara dirinya atau ayahnya. Dengan sangat berat hati dia harus menegarkan hati
menerima kepahitan ini karena dia memilih yang kedua, demi ayahnya, keluarga
satu-satunya yang begitu menyayangi dan membesarkannya.
Dia kini pasrah saja ketika Pak Somad naik ke ranjang dan berlutut diantara
kedua pahanya. Wajah ketiga laki-laki itu sedang menyeringai mesum padanya,
sepertinya mulai saat itu bayangan wajah-wajah mesum itu akan terus
menghantuinya seumur hidup.
“Nikmatin aja Non, jangan ribut, kalau ada yang dateng lagi saya ga tanggung
loh !” kata Robert dekat telinganya.
“Tahan yah Non, agak sakit, tapi nantinya bakal enak deh. Bapak ga bakal kasar
kok kalo Non nurut, siap yah..!” sahut Pak Somad lalu dia mulai menekan kepala
penisnya yang sudah menempel di bibir vagina Tessa.
“Aahh…sakit…!! Oohh…tolong hentikan !” rintih Tessa menahan sakit sampai tubuhnya
menggeliat dan dadanya terangkat hingga makin membusung, keringat mengucur
membasahi tubuhnya.
“Sabar yah Non, sabar !” Pak Japra menenangkannya sambil membelai rambut gadis
itu, dia dapat merasakan genggaman tangan gadis itu yang makin erat karena
telapak tangan mereka saling genggam.
“Sempit oi, enak banget !” gumam satpam itu sambil terus mendorong-dorongkan
penisnya ke vagina Tessa.
Kepala penis yang seperti jamur itu sudah menancap di vagina Tessa, lalu Pak Somad
mendorong lebih dalam lagi.
“Aakkhh…aaaahhh !” jerit Tessa mengakhiri keperawanannya dengan tubuh makin
mengejang.
“Pheeww…masuk juga akhirnya, asoy banget memek perawan nih !” kata Pak Somad
sambil menghembuskan nafas panjang.
Satpam itu membiarkan sebentar penisnya menancap di sana merasakan eratnya
himpitan vagina Tessa yang baru sekali ini dimasuki benda itu. Terlihat sedikit
darah menetes dari pinggir bibir kemaluannya, darah dari selaput daranya yang
dia korbankan untuk menebus dosa ayahnya. Air mata yang meleleh dari matanya
semakin banyak, dia merasa dirinya telah begitu kotor, saat itu juga terbayang
wajah Martin, pria yang menaruh hati padanya, apakah dirinya yang telah ternoda
itu masih pantas bagi pria itu, apa yang harus dijawabnya bila Martin
menyatakan perasaanya padanya kelak, itulah yang berkecamuk dalam pikirannya
saat itu. Dia juga tak habis pikir kenapa ketiga orang ini tega-teganya berbuat
begitu padanya, padahal selama ini dia selalu baik kepada mereka. Sekarang Pak Somad
memulai gerakan memompanya.
“Uuuhh…asyik, dapet barang bagus gini gratisan, untung banget hari ini !”
komentar Pak Somad sambil terus menggenjot Tessa.
Di sebelahnya Pak Japra kembali mengenyot payudara gadis itu sambil
menggerayangi tubuhnya, pipinya sampai kempot saking bernafsunya.
“Nah…ini Non yang namanya ngentot, gimana rasanya? enak kan?” kata Robert.
Robert kemudian menunduk dan melumat payudara Tessa yang lain, gigitan dan
hisapannya lebih kasar dari Pak Japra sehingga gadis itu merasa nyeri pada
putingnya. Mulut Pak Japra mulai menjalar naik ke bahu, leher, hingga bibirnya.
Bibir yang sudah berkerut itupun bertemu dengan bibir Tessa yang mungil dan
segar sehingga erangannya teredam. Lidah pria itu mengaduk-aduk mulutnya, Tessa
pun secara refleks menggerakkan lidahnya sehingga tanpa terasa dia malah hanyut
melayani permainan lidah Pak Japra, ini juga dikarenakan sodokan-sodokan Pak Somad
yang menimbulkan rasa nikmat yang tidak bisa disangkalnya. Satpam itu makin
bersemangat menggenjot vagina Tessa sambil menggumam tak jelas.
“Okh-oohh…enak, ohh-uuuuh…udah perawan, cantik lagi uhh..!” ceracaunya sambil
menikmati kontraksi dinding vagina Tessa yang memijati penisnya.
Tangan kekar Pak Somad yang memegangi paha gadis itu membelai-belai menikmati
kemulusan pahanya, sesekali juga meremasi bongkahan pantatnya. Kontras sekali
pemandangannya saat itu, tubuh mulus seorang gadis jelita ditengah-tengah tubuh
hitam kasar dari tiga pria bertampang seram.
Tessa merasa nyeri pada bagian vaginanya yang baru robek selaput daranya,
apalagi satpam itu menyetubuhinya dengan ganas. Robert naik ke ranjang setelah
Pak Japra menyudahi ciumannya, lututnya bertumpu di sebelah kanan dan kiri
leher gadis itu, maka penisnya mengacung di depan wajahnya. Tessa tertegun
menyaksikan batang berurat yang menodong beberapa senti dari wajahnya itu.
“Ayo Non, kenalan dulu dong sama burung Bapak ini, dia bakal nyenengin Non
nanti, tapi dia minta dimanja dulu pakai mulut Non supaya lebih seger” kata Robert
dengan seringai mesumnya.
Tessa menggeleng berusaha menjauhkan wajahnya dari benda itu, tapi tidak bisa
karena kepalanya di pegangi Robert.
“Jangan Pak…jangan !” katanya terengah-engah
Tanpa merasa kasihan Robert menjejali mulut Tessa dengan penisnya secara paksa,
hampir muntah Tessa dibuatnya.
“Jilat pake lidah Non, jangan digigit, awas kalo coba-coba !” perintahnya.
Penis itu terasa penuh di mulut Tessa, itupun belum seluruhnya masuk karena
penis Robert terlalu besar untuk mulut Tessa. Karena takut, Tessa pun mulai
melakukan apa yang diminta, digerakkannya lidahnya menjilati batang penis di
mulutnya, rasanya asin dan agak bau tapi dia tidak bisa menolaknya.
“Ehehhee…enak ga disepong sama si Non ini, Rob ?” tanya Pak Japra
terkekeh-kekeh sambil meremas payudaranya.
“Yahud banget, masih kaku sih, tapi gapapa bisa diajarin kok buat
nanti-nanti…uuhhh !” jawab Robert yang sedang menikmati pelayanan mulut Tessa
“Iyahh…gitu Non, sambil diisep biar lebih asoy !”
Desahan tertahan terdengar dari mulut Tessa yang sedang dipenuhi batang
kemaluan Robert. Tiba-tiba mata Tessa membelakak, tubuhnya mengejang tanpa bisa
dikendalikan, Pak Somad yang sedang menggenjotnya pun semakin bernafsu,
penisnya ditekan lebih dalam sampai bibir vagina Tessa ikut tertekan. Gadis itu
telah orgasme dan disusul beberapa detik kemudian oleh pemerkosanya, Pak Somad
menumpahkan spermanya yang hangat itu di dalam vagina Tessa dan genjotannya
masih berlanjut sekitar 1-2 menit ke depan, dari vaginanya nampak menetes
cairan putih susu yang telah bercampur darah keperawanannya. Tubuh Tessa
kembali melemas dan dia juga sedikit lega karena Robert menarik lepas penisnya
dari mulutnya. Namun waktu istirahatnya tidak lama, karena Robert langsung
membalikkan tubuhnya dan menyuruhnya nungging dengan bertumpu pada kedua lutut
dan sikunya.
“Wah…darahnya banyak banget nih !” kata Robert sambil mengelap selangkangan Tessa
dengan tissue.
“Iya tuh, perawan tulen, gua aja keluarnya lebih cepet barusan, pokoknya legit
banget !” Pak Somad menimpali.
“Bapak juga mau disepongin kaya Pak Robert tadi, ayo dong Non !” pinta Pak Japra
yang sekarang naik ke ranjang dan duduk berselonjor dengan bersandar ke kepala
ranjang.
Orang tua ini mintanya lebih halus dibanding si satpam dan Robert, dia
membimbing jari-jari lentik Tessa menggenggam penisnya yang keriputan dan
bulunya sudah beruban itu.
“Dijilat Non, jangan cuma diliatin aja !” katanya pada Tessa yang masih jijik
menatap batang di genggamannya itu.
“Heh denger gak tuh, dijilat oi, ke orang tua jangan ngelawan !” kata Robert
sambil mencucukkan dua jari ke vagina gadis itu.
“Ahh…iya Pak, tolong jangan sakitin saya lagi !” jeritnya ketika dua jari itu
menusuknya secara mendadak.
Tessa mulai menundukkan kepalanya dan menyibak rambut panjangnya, dia
memberanikan diri melawan rasa jijik dengan menjilati kepala penis Pak Japra
yang membuat orang tua itu langsung mendesah keenakan.
“Hehehe…enak yah Pak, ati-ati loh jantungan !” canda Pak Somad yang duduk
sambil mengelap keringatnya.
“Ugghh !” Tessa melenguh pelan saat Robert memberikan gigitan ringan di
pantatnya, juga dia jilati bongkahan putih padat itu.
Dia meneruskan aktivitasnya mengoral penis Pak Japra, walau tidak nyaman dengan
aromanya, dia terus melakukannya karena khawatir mereka akan semakin kasar
padanya, dan yang tak kalah penting adalah skandal ayahnya. Kemudian dia mulai
membuka bibirnya yang indah memasukkan penis tua itu ke mulutnya. Sungguh
ironis, gadis secantik itu membiarkan penis berkerut milik seorang yang pantas
menjadi kakeknya itu ke mulutnya. Kepala Tessa naik-turun mengisapi penis itu,
hal ini membuat orang tua itu makin mendesah saja sambil tangannya meremas
rambut Tessa.
“Hehehe…liat Rob, si Non ini cepet yah belajarnya sampai Pak Japra kesetanan
gitu !” komentar si satpam.
“Iya tuh, udah mulai ketagihan kali, dasar bakat perek, iya kan Non !” ejek Robert
sambil meremas pantatnya.
Panas sekali hati dan telinga Tessa mendengar penghinaan itu, benar-benar
merendahkan harga dirinya, tapi demi ayahnya dia tanggung segala hinaan itu.
Juga teringat lagi dulu dia pernah menolong orang yang menghinanya itu ketika
tersandung di tangga, hatinya serasa disayat-sayat sehingga membuat matanya
makin sembab.
Setelah membersihan ceceran darah di selangkangan Tessa, Robert naik ke
ranjang mengarahkan penisnya bersiap menyetubuhi gadis itu dalam posisi doggie.
Tessa meringis ketika merasakan penis Robert menyeruak masuk ke vaginanya, dia
merintih, perih, namun kali ini sudah lebih mendingan berkat cairan kewanitaan
yang melicinkan vaginanya.
“Aahh…!” itulah yang keluar dari mulut Tessa saat Robert menyentakkan penisnya
hingga amblas seluruhnya.
Robert mulai maju-mundur sambil tangannya berkeliaran menggerayangi pantat,
punggung dan payudaranya yang menggelantung.
“Ayo Non, Isepnya terusin tanggung nih !” kata Pak Japra menekan kepala Tessa
sambil tangannya yang satu memegangi penisnya.
Kembali Tessa mengulum penis Pak Japra sambil menerima sodokan-sodokan dari
belakangnya. Pak Japra melenguh-lenguh dengan suara parau merasakan hisapan Tessa
pada penisnya, tangannya meraih payudara gadis itu dan memain-mainkan
putingnya. Entah mengapa Tessa merasakan suatu gairah timbul dalam dirinya atas
perlakuan ini, sebuah perasaan yang tidak bisa dia tahan, hasrat liar dalam
alam bawah sadarnya mulai timbul menggusur akal sehat dan hati nuraninya.
Setelah beberapa saat Pak Japra makin menggelinjang, orang tua itu menggumam
tak jelas dan akhirnya crrt…crrt…Tessa kaget merasakan ada cairan beraroma tajam
yang tiba-tiba memenuhi mulutnya, dia langsung melepas penis itu sehingga sisa
cairan itu menyemprot ke wajahnya, juga membasahi tangannya.
“Ohhh…!” jeritnya kecil ketika sperma itu nyiprat ke wajahnya.
“Hehehe…itu namanya peju Non, ntar lama-lama juga doyan kok !” sahut Pak Somad
yang sudah berdiri di sebelahnya.
Jijik sekali Tessa dengan cairan kental yang baunya aneh itu sehingga dia
menyeka wajahnya dengan jari-jarinya. Saat itu Pak Japra sudah ngos-ngosan
dalam kepuasannya.
“Eit…jangan dibuang gitu aja dong, mubazir !” kata Pak Somad sambil menangkap
pergelangan tangan Tessa “Nih…diminum dong, sehat kok bergizi !” dia mengelap
sperma pada hidung Tessa dengan jarinya lalu menyodorkannya ke mulutnya.
Tessa menggeleng dengan mulut tertutup, tiba-tiba sebuah sodokan keras
menghujamnya dari belakang.
“Ayo…diminum ! supaya biasa nantinya !” perintah Robert dari belakang.
Dengan ragu-ragu Tessa mulai menjilati sperma di jari Pak Somad dan langsung
ditelan dengan menahan jijik. Pak Somad juga menyuruh membersihkan sisanya pada
penis Pak Japra yang sudah mengendor.
“Nah, asyik kan Pak Japra, dah lama pasti ga nyoba yang seger-seger gini !”
kata Pak Somad pada rekannya itu.
Pak Japra hanya terkekeh-kekeh mengiyakan semua itu. Tiba-tiba semua terdiam
karena terdengar sebuah musik berasal dari tas Tessa yang tak lain adalah
ponselnya. Pak Somad mengeluarkan benda itu dari tasnya, yang menghubungi
adalah ayahnya, Pak Parto.
“Terima Non, tau kan apa yang harus Non omongin !” kata Robert
Tessa menerima ponselnya dari Pak Somad dan menerima panggilan itu, dia
berusaha keras mengendalikan nada bicaranya agar wajar, dia harus berbohong
sedang mengerjakan tugas kelompok di kost teman dekat sini, selama empat menit
berbicara itu penis Robert tetap menancap di vaginanya, dan mereka terus
menggerayangi tubuhnya.
Setelah telepon ditutup Robert kembali menggenjot tubuh Tessa, kali ini
lebih ganas dari sebelumnya sampai ranjangnya ikut goyang, mungkin karena rasa
tanggungnya tadi. Desahan Tessa bercampur bunyi tepukan pada pantatnya yang
bertumbukan dengan selangkangan Robert. Pak Somad yang nafsunya mulai bangkit
lagi meremas payudara kanannya dengan gemas.
“Sakit…!” rintih gadis itu yang malah membuat mereka semakin nafsu.
Sepuluh menit lamanya dia digumuli dalam posisi itu, sodokan-sodokan Robert
ditambah tangan-tangan yang menggerayanginya mendatangkan kembali perasaan aneh
yang tadi dirasakannya, kembali tubuh Tessa mengejang disertai erangan panjang.
Dirinya serasa terbang selama 1-2 menit, dan dia harus mengakui kenikmatannya.
Gelombang orgasme yang menerpa Tessa dirasakan juga nikmatnya oleh Robert
karena otot-otot vaginanya semakin menghimpit penisnya serta menghangatkannya
dengan cairan yang dihasilkan. Hal ini tentu memicu Robert menggenjotnya lebih
cepat lagi hingga diapun keluar tak lama kemudian, penisnya menyemprotkan
sperma dengan derasnya ke rahim Tessa. Setelah mengeluarkan isinya, Robert
menarik lepas penisnya, ketika dikeluarkan terlihat cairan kental belepotan di
batangnya yang lalu dilapkan pada belahan pantat gadis itu.
Pak Japra kini menggeser tubuhnya ke depan hingga berbaring telentang di
bawah tubuh Tessa. Penisnya sudah mulai mengeras lagi karena sambil istirahat
tadi dia memegangi tangan gadis itu agar terus mengocok penisnya.
“Yuk, Non sekarang giliran Bapak yah” katanya mengelus pipi gadis itu.
“Gini Non, saya ajarin gaya lain !” sahut Robert mendekap tubuhnya dari
belakang dan mengangkatnya hingga duduk berlutut di atas selangkangan Pak Japra
“Pegang tuh kontol, arahin ke memek Non !” suruhnya.
Tessa sudah pasrah dan terlalu lelah untuk melawan sehingga dia mengikuti saja
apa yang diinstruksikan mereka. Dia menggenggam penis tua dibawahnya itu
mengarah ke vaginanya.
“Turunin badannya Non sampe nancap !” suruh Pak Somad.
Pak Japra sendiri tidak banyak tingkah seperti dua orang itu, dia cuma
memegangi payudara Tessa saja sambil sesekali memberi pengarahan. Tessa mulai
menurunkan tubuhnya dan penis itu melesak masuk ke dalam diiringi desahan
keduanya.
“Sekarang gerakin badannya naik turun Non, pasti enak !” Pak Japra
menginstruksikannya.
“Uuuhh…eennggg !” lenguh orang tua itu merasakan gesekan penisnya dengan
dinding vagina Tessa yang masih seret.
Tubuh Tessa mulai bergerak naik-turun diatas penis Pak Japra, mula-mula dibantu
Robert yang menekan-nekan tubuhnya dari belakang, tapi lama-lama tanpa disadari
Tessa pun mulai bergoyang dengan sendirinya. Pak Somad memegang buah dada kanan
Tessa dan mulutnya langsung melumatnya, tangannya yang satu mengocok-ngocok
penisnya sendiri. Robert yang mendekapnya dari belakang menciumi leher dan
pundaknya sehingga gadis itu semakin hanyut dalam birahinya.
“Oooh…terus Non, enak banget…uuuhh…terus !” orang tua itu mendesah tak karuan
“Asyik kan Non, tuh buktinya goyangnya lebih hebat dari Inul !” kata Pak Robert
dekat telinganya.
Tessa terus menaik-turunkan tubuh tanpa peduli omongan-omongan mereka yang
bernada melecehkan itu, birahinya menuntut pemuasan sekalipun hatinya menolak.
Pak tua itu tidak tahan lama dengan goyangan-goyangan Tessa, diapun
menyemprotkan spermanya dan terengah-engah kepuasan, nafsunya memang besar tapi
tenaganya sudah termakan usia.
Setelah itu, Robert mengajaknya turun dari ranjang, lalu dia duduk di sebuah kursi dan menyuruhnya duduk di atas pangkuannya dengan posisi memunggungi. Kembali Tessa memicu tubuhnya naik-turun di atas pangkuan Robert. Selain itu dia masih harus melayani penis Pak Somad dan Pak Japra yang berdiri di depannya. Dikulum dan dikocokinya penis itu bergantian. Dari belakangnya Robert menekan-nekan tubuhnya agar penisnya menancap lebih dalam, tangannya mendekap tubuhnya dan menggerayangi payudaranya. Tessa klimaks lagi dalam posisi demikian dan disusul Robert tak lama kemudian. Nampak sperma berlelehan di selangkangan keduanya yang masih menyatu. Pak Somad yang masih keluar mengambil alih kendali, dia mengangkat tubuh Tessa yang masih lemas dan menelentangkannya di meja dengan kaki menjuntai. Dinaikkannya kaki Tessa ke pundaknya dan menancapkan penisnya. Selama lima belas menit Tessa disetubuhi oleh satpam itu hingga akhirnya dia mengeluarkan penisnya, isinya muncrat membasahi perut hingga permukaan kemaluannya. Untung itu tugas terakhir baginya, kalau tidak mungkin dia sudah pingsan kehabisan tenaga.
Tessa pulang dengan langkah gontai, rasa nyeri masih terasa pada
selangkangannya. Sampai di rumah dia sekuat tenaga bersikap wajar seolah tidak
terjadi apa-apa, karena tidak ingin merepotkan ayahnya. Ketika ayahnya
menanyakan cara jalannya yang agak tertatih-tatih dia berbohong dengan
mengatakan tadi terpeleset di tangga, tapi tidak parah. Yang paling berat
baginya adalah tiga hari setelah peristiwa itu, yaitu ketika Martin menyatakan
cintanya sewaktu mengantarnya pulang nonton. Dia merasa dirinya yang sudah
kotor itu tidak pantas lagi baginya, Martin terlalu baik baginya sehingga dia
tidak sanggup menerima cintanya. Martin beberapa kali membujuknya tapi tidak
ada hasil, akhirnya dengan hati hancur, setelah kelulusannya tak lama kemudian,
pemuda itu pergi ke luar negeri meneruskan studinya sekaligus untuk melupakan
kenangan-kenangan manis yang pernah dia lalui bersama Tessa.
“Maafkan aku Martin, karena aku cinta makannya aku menolak, aku cuma bisa berdoa
semoga di kemudian hari ada gadis yang lebih pantas bagimu daripada aku yang
telah ternoda ini” demikian kata Tessa di sela tangisnya di dalam kamar setelah
menolak cinta pemuda itu.
Tessa memulai hidup barunya sebagai budak seks Robert. Sesekali Pak Somad
dan Pak Dahlan, si dosen bejat juga mendapat kesempatan mencicipi tubuhnya. Pak
Japra berhenti kerja seminggu setelah peristiwa itu, dia merasa berdosa telah
ikut memperkosa bahkan menjerumuskan gadis berhati emas itu ke lembah nista.
Dua hari sebelumnya dia sempat bertemu Tessa dan meminta maaf padanya.
“Maafin Bapak yan Non, waktu itu ga tau setan apa yang nguasain Bapak sampai
nyusahin Non seperti ini. Sekarang Bapak jadi dikejar-kejar dosa, makannya
Bapak mau pulang kampung aja” kata orang tua itu tidak berani menatap wajah Tessa.
“Sudahlah Pak, semua sudah terjadi, Bapak cuma khilaf, ini bukan sepenuhnya
salah Bapak kok, saya sudah pasrah sama nasib saya” Tessa menjawabnya dengan
suara lemas.
Di mata para dosen dan teman-temannya memang Tessa masih tetap seorang
mahasiswi favorit, namun di luar jam kuliah dia bak pelacur yang siap melayani
nafsu si penjaga kampus bejat itu.

Comments
Post a Comment